Senin, 03 Maret 2014 di 05.42 Diposting oleh Unknown 0 Comments

Prologue


          Malam yang sunyi saat itu. Ia termenung di dekat jendela. Melihat pemandangan kota yang begitu terang meskipun itu malam. Cahaya dari lampu-lampu yang masih menyala menerangi gelapnya Kota Tokyo, Jepang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dua jam lagi hari berganti. Ia itu masih menatap kosong ke luar jendela. Entah apa yang dilihatnya, ia terus menatap ke luar jendela.
         
          Sudah sedari tadi ia itu menatap ke luar jendela. Bisa dihitung, dua.. tiga.. empat jam. Sepertinya ia sedang menikmati kota Tokyo malam hari. Tapi, mengapa tatapannya kosong? Sebenarnya apa yang ia lihat? Sesekali ia itu menulis di dalam sebuah buku bergambar bintang yang berlatar warna biru muda itu. Menulis di dalam buku itu tanpa melihat bukunya, ia lalu memetik beberapa nada dari gitar yang sudah lama bersamanya. Apa yang ia tulis, sih? Dan apa juga yang ia lihat?

          Gadis itu bergumam sebentar. “dua.. tiga.. empat.. Ah, bukan. Empat.. lampu.” Gumamnya sambil menunjuk lampu-lampu kota yang bersinar terang. Benar-benar aneh. “dua belas.. tiga belas.” Ia  masih berhitung, menghentikan hitungannya di angka tiga belas.

          “…”

          Hening. Ia kembali menatap kosong ke luar jendela dengan hening. Tanpa gumaman kecil. Bahkan suara detak jantungnya yang begitu pelan pun dapat terdengar. Mungkin memang saat itu sedang sangat sepi di rumahnya. Ayah dan Ibunya sedang mengerjakan tugas dinas di luar negeri. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara.

          Bersandar di sebelah tempat tidurnya, ia tetap melamun. Sebentar, ia pindah posisi ke atas ranjangnya, Dan setelah itu ia tertidur pulas.





***