Prologue
Malam yang sunyi saat itu. Ia termenung di dekat jendela.
Melihat pemandangan kota yang begitu terang meskipun itu malam. Cahaya dari
lampu-lampu yang masih menyala menerangi gelapnya Kota Tokyo, Jepang. Waktu
sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dua jam lagi hari berganti. Ia itu masih
menatap kosong ke luar jendela. Entah apa yang dilihatnya, ia terus menatap ke
luar jendela.
Sudah sedari tadi ia itu menatap ke luar jendela. Bisa
dihitung, dua.. tiga.. empat jam. Sepertinya ia sedang menikmati kota Tokyo
malam hari. Tapi, mengapa tatapannya kosong? Sebenarnya apa yang ia lihat?
Sesekali ia itu menulis di dalam sebuah buku bergambar bintang yang berlatar
warna biru muda itu. Menulis di dalam buku itu tanpa melihat bukunya, ia lalu
memetik beberapa nada dari gitar yang sudah lama bersamanya. Apa yang ia tulis,
sih? Dan apa juga yang ia lihat?
Gadis itu bergumam sebentar. “dua.. tiga.. empat.. Ah,
bukan. Empat.. lampu.” Gumamnya sambil menunjuk lampu-lampu kota yang bersinar
terang. Benar-benar aneh. “dua belas.. tiga belas.” Ia masih berhitung, menghentikan hitungannya di
angka tiga belas.
“…”
Hening. Ia kembali menatap kosong ke luar jendela dengan
hening. Tanpa gumaman kecil. Bahkan suara detak jantungnya yang begitu pelan
pun dapat terdengar. Mungkin memang saat itu sedang sangat sepi di rumahnya.
Ayah dan Ibunya sedang mengerjakan tugas dinas di luar negeri. Ia adalah anak
pertama dari dua bersaudara.
Bersandar di sebelah tempat tidurnya, ia tetap melamun.
Sebentar, ia pindah posisi ke atas ranjangnya, Dan setelah itu ia tertidur
pulas.
***
0 Responses so far.
Posting Komentar